RENUNGAN IDUL FITRI 1437 H

Ungkapan dan do’a yang sering diucapkan ketika Hari Raya Idul Fitri ialah : تقبل الله منا ومنكم من العائدين والمقبولين والفائزين كل عام وانتم بخير “Mohon Maaf Lahir Dan Batin” “Semoga Allah menerima kita dari golongan hamba-Nya yang kembali pada kesucian, orang-orang yang diterima amal ibadah puasanya, orang-orang yang selalu berada dalam keberuntungan” Idul Fitri disebut Hari Raya karena memiliki konotasi makna sebagai hari kemenangan, kemenangan dari godaan hawa nafsu selama sebulan penuh kita ditempa dengan ujian puasa Ramadlon. Do’a tersebut diatas tidak lebih sebagai implementasi dari luapan kegembiraan shoimun shoimat atas kemenangan yang telah diperolehnya seusai ibadah puasa Ramadlon. Do’a yang pertama, Memohon menjadi orang yang kembali pada kesucian (Fitrah) merupakan dambaan setiap mukmin. Manusia pada dasarnya tercipta dari aura-aura kesucian yang sejak dalam rahim ibu telah dititipkan oleh Allah swt. Fitrah tersebut disebut fitrah tauhidi, fitrah berketuhanan yang Maha Esa, fitrah yang selalu haus akan nilai kesuburan rohani, fitrah untuk selalu bersandar pada kehendak Ilahi. Fitrah ini diungkapkan oleh Allah swt ; وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢ “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah Aku ini Tuhnamu “? Mereka menjawav : betul, (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kesaksianTuhan) ( surat al-A’rof ; 172). Ayat ini menguraikan dialog Tuhan dengan para ruh manusia didalam rahim ibu, ketika itu semua ruh (calon manusia) berikrar bahwa Allah swt adalah Tuhan pencipta mereka, mereka secara fitrah telah bertauhid kepada Allah dan mereka sekali-kali tidak akan mengingkari kesaksian mereka sampai hari kiamat kelak. Kenyataan ini memberikan implikasi makna filosofis pada setiap ibu-ibu dalam proses perawatan dan pembinaan anaknya. Seperti kebiasaan ibu mengemban bayinya disebelah kiri, hal ini bermakna bahwa ibu tersebut masih ingin menanamkan tauhid pada anaknya melalui upaya mendekatkan bayinya dengan jantung ibu yang selalu berdetak ikrar pengakuan keesaan dan kebesaran Allah swt serta upaya tadzikroh sewaktu bayi ada di dalam rahim ibu yang pernah berjanji dengan keesaan Tuhan. Fakta ini berimplikasi pada sikap dan watak manusia yang memiliki kecenderungan kembali kepada sentral, kembali pada Tuhan, kembali pada ibu (orang tua) sehingga mengapa setiap hari raya, kita punya tradisi mudik ke kampung tidak lain dikarenakan kita ingin kembali kepada asal kita, sentral kita yaitu ibu setelah kita merasakan dan menikmati indahnya kembali kepada Allah swt melalui kesempurnaan ibadah dan kemesraan dzikir bersama Allah swt selama puasa Ramadlon. Kesemuanya ini merupakan salah satu dari makna fitrah. Kembali kepada fitrah seharusnya tidak hanya dirasakan saat sehari selama hari raya akan tetapi harus terus dijaga dan dipelihara selama-lamanya dalam praktek kehidupan manusia di dunia. Sesuai dengan fitrahnya seperti wanita memiliki fitrah kesucian sebagai hamba Allah swt yang dipenuhi dengan perhiasan, keindahan, kemolekan wajah dan tubuhnya, dan sebagainya. Wanita yang bijak seharusnya berkewajiban untuk menjaga kesuciannya. Dalam bahasa agama akhirnya diwajibkan menjaga aurat, berbusana muslimah, tidak sekali-kali ingin menunjukkan keindahan dan kemolekan tubuhnya kepada siapapun dan kapanpun kecuali kepada orang yang telah diizinkan Allah swt untuk mereka. Sikap ini yang sering dilupakan. Islam adalah agama yang luhur nan suci tetapi umatnya lah yang selalu tidak bisa menjaga keluhuran dan kesucian agamanya. Awal munculnya kemaksiatan adalah kecerobohan dalam menjaga kesucian diri manusia walaupun lewat pakaian. Do’a yang kedua, Memohon ibadah puasa ramadlon serta seluruh aktivitas kerohanian sebagai penyempurna puasa agar diterima Allah swt. Permohonan ini memberi makna agar hubungan kedekatan seorang hamba selama Ramadlon serta seluruh ibadah yang lain bisa dipertahankan, dilestarikan seterusnya pasca Ramadlon. Selama bulan suci Ramadlon kita aktif melaksanakan kegiatan ibadah yang sulit kita lakukan di luar Ramadlon seperti shalat berjama’ah, tadarus al-Qurän, shalat tahajud setelah atau sebelum sahur, memperbanyak dzikir, melatih kesabaran, menanamkan kejujuran, memupuk rasa syukur, meningkatkan managemen kedisiplinan waktu dan bahkan managemen qalbu serta banyak lagi pendidikan yang diperoleh selama Ramadlon. kesemuanya kita memohon kepada Allah swt agar bisa kita teruskan, kita amalkan dan bahkan kita tingkatkan terus pasca Ramadlon, karena itu mengapa bulan pasca Ramadlon dinamakan bulan syawal mengandung arti bulan peningkatan dan harapan. Do’a ketiga, kita memohon agar menjadi golongan hamba Allah swt yang selalu beruntung. Terminologi beruntung tidak hanya berarti material akan tetapi yang lebih besar dan hakiki maknanya ialah beruntung karena kita telah berhasil melaksanakan tugas berat puasa serta memperoleh kekuatan dari Allah swt bisa melaksanakan semua apa yang tersebut di permohonan do’a kedua. Bahagia yang sejati menurut al-Qurän ialah bahagia karena mendapatkan anugerah taufik , hidayah, rahmat dan keutamaan Allah swt. sebagaimana firman-Nya ; “Katakanlah hanya dengan Kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.(surat Yunus ; 58) Ibn Maskawih menegaskan bahwa nilai kesempurnaan seseorang diukur melalui tingkat kesempurnaan dan kesuburan spiritualnya bukan material. Lewat latihan lahir dan batin selama Ramadlon kita memohon agar menjadi orang beruntung yang sejati. Karena itu pepatah Arab berkata ; ليس العيد لمن لبس الجد يد ولكن العيد لمن طاعته تزيد “Bukanlah yang dinamakan ‘Id (kembali ke fitrah) itu orang yang berpakaian baju baru akan tetapi ‘Id adalah orang yang nilai taatnya bertambah” Permohonan yang keempat, Memohon maaf lahir dan batin kepada sesama. saling memberikan maaf, saling mengakui kesalahan, saling memaklumi kesalahan orang lain. Di negara kita fenomena ini sering disebut dengan Halal bi halal (Halah bil halal). Tradisi ini merupakan realisasi dari peringatan Rasulullah saw agar tidak menjadi hamba Allah swt yang Muflis. Yaitu mereka yang datang menghadap Allah swt dengan amal kebaikan ibadah yang maksimal akan tetapi meninggalkan permasalahan hak adami yang belum diselesaikan sesama manusia. Islam adalah agama yang merajut tali persaudaraan sesama manusia, pengertian ini diwujudkan melalui berbagai bentuk peribadatan dalam Islam yang selalu berorientasi pada hubungan dengan Allah swt dan hubungan dengan sesama manusia. (Hablun minallah dan Hablun Minannas) kita ambil contoh ibadah sholat merupakan ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Takbir berarti pengakuan keagungan Allah swt dalam segala aktivitas hidup manusia dan salam berarti lahirnya kesadaran untuk selalu merajut hubungan kemanusiaan, kesadaran untuk mengingat serta membantu beban dan kesulitan orang lain, oleh karenanya diwujudkan dengan menoleh ke kiri dan ke kanan. Kita menyadari kesempurnaan manusia di hadapan Allah swt tidak ada nilainya manakala dia masih memiliki sangkut paut hak adami kepada semua orang. Inilah yang dinamakan Insan kamil. Manusia sempurna lahir batin, sempurna yang sejati di hadapan Allah swt dan di tengah-tengah manusia lain dengan sikapnya yang selalu memaafkan kesalahan orang lain serta pandai meminta maaf atas kekeliruan dan kekurangan kita kepada orang lain. Kedekatan kepada Tuhan atau kesalehan religius individual semestinya tidak hanya diukur dari kemampuan dan prestasi spiritual yang tidak bisa dievaluasi dan dinilai dengan ukuran baku yang empirik, tetapi perlu dilihat dari kemampuan dan prestasinya menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan duniawi. Dengan demikian usaha memperoleh posisi terdekat kepada Tuhan melalui berbagai bentuk dan laku ibadah ritual seharusnya tidak dilakukan dengan mengabaikan atau bahkan menindas sisi kemanusiaan dan kepentingan sosial. Ironinya, tanpa disadari usaha pendekatan diri kepada Tuhan sering dilakukan dengan berbagai tindakan yang sebenarnya melawan kodrat kemanusiannya yang asli. Orang saleh secara personal sering tidak peduli terhadap kepentingan sosial dan kepentingan orang lain atau gagal memperoleh apa yang dikenal sebagai kesalehan sosial. Tradisi saling memaafkan seperti ini kita harapkan selalu subur tidak hanya ketika hari raya Idul Fitri. Akan tetapi kita harus berupaya terus melestarikannya seraya mohon kepada Allah swt kiranya Allah swt memberikan kesejukan batin, kejernihan hati serta kesuburan rohani sebagai mana yang kita rasakan selama Ramadlon.. Amiin. Semoga Allah swt mengabulkan semua permohonan kita, mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, menutupi cacat dan kekurangan kita, membersihkan kotoran hati kita, menjernihkan jalan pikiran kita, memperjelas tatapan masa depan kita, ,memberkahi rizqi dan anak turun kita, menghiasi keindahan bahasa hati kita dan menjadikan hidup di dunia fana ini sebagai sumber nilai keindahan kita dan ladang menuai pahala dan berkah. Wahai Allah Dzat Yang Maha Penerima do’a, Terimalah do’a hamba-Mu yang berlumuran dosa ini. Amiin 3x *** WASSALAM ***

Leave a Reply