Ponpesma Unisla
  • Pembukaan Ponpesma
  • Halaqoh Ilmiah
  • Buka Puasa Bersama
  • Ziaroh Maqbaroh Pendiri (Muassis) UNISLA
ArtikelOpini

“Sejak Kapan Warna Hitam Ketiak Menjadi Masalah Bagi Perempuan?” (Kajian Gagasan One Dimensional Man Herbert Mercuse)

herbert msrcuse
Share & Like Post ini :


Pertanyaan di atas sengaja penulis pilih sebagai judul untuk membuka wacara One Dimenional Man. Istilah One Dimensional Man merupakan satu diantara beberapa ide yang lahir dari pemikiran Herbert Marcuse. One Dimensional Man secara mudah bisa diartikan dengan “Manusia Satu Dimensi”. Ide ini dimunculkan untuk mengkitik manusia modern yang dinilainya tak punya daya perlawanan sama sekali pada kapitalisme.

Bagi Marcuse, idealnya, dalam kehidupan harus ada dimensi afirmatif dan dimensi negatif. atau dengan memakai istilah Negara modern, kelompok yang pro pemerintah (koalisi) dan kelompok yang kontra pemerintah (oposisi). Dimensi afirmatif atau kelompok koalisi ini adalah kelompok yang mendukung sistem, sebaliknya, dimeni negatif atau kelompok oposisi merupakan kelompok yang menentang sistem.  Dalam pemerintahan, hadirnya dua kelompok yang berlawanan ini diharapkan mampu menciptakan budaya ceck and balance sehingga pemerintahan yang baik bisa terwujud.

Marcuse dilahirkan pada tahun 1898 di Berlin. Kemdianan Pada tahun 1922 ia menyelesaikan studi Germanistik. Baru pada tahun 1928 ia memulai studi filsafat pada Filosuf Ermund Huerl dan Marten Heidegger di Freiburg. Di tahun 1932 ia mulai tertarik dengan gagasan Karl Marx muda tentang keterasingan dalam buku  “Naskah-naskah Ekonomis Filosofis. Ia mulai mendalami gagasan Marx hingga memahami apa yang dikehendaki Marx. Kemudian ia bergabung dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt.

Gagasan  One Dimensional Man dimunculkan oleh Marcuse sebagai bentuk sikap kritisnya  pada realitas masyarakat yang tidak punya daya upaya untuk melawan sistem kapitalisme. Sikap kritisnya muncul dari pergulatan pemikiran dengan tokoh-tokoh filsafat lainnya, baik secara langsung maupun pertemuan gagasan melalui buku. Tokoh-tokoh filsafat yang ada di Frankfurt, oleh generasi berikutnya dipanggil “Madzhab  Frankfurt”.

Ia menilai, sebagai sistem ekonomi yang oleh Marx bisa mengalienasi antara pekerja dan hasil produksi, harus dilawan dan dilawan. Kapitalisme dinilai mempertajam jurang yang kaya dan yang miskin. Akan tetapi, kenyataannya ia harus merasakan kekecewaan tatkala menyaksikan semua orang, kelompok, sistem dan tata nilai menjadi  searah-seirama dengan kapitalisme.

Sifat searah seirama tersebut dilakukan bukan  dengan paksaan. Bukan karena yang satu menindas yang lain. Melainkan dilakukan dengan “kesadaran”.  Masyarakat tidak sadar bahwa mereka ditindas, bahkan penindasan itu dilakukan dengan sukarela. Masyarakat dengan sukarela bersedia menyesuaikan seluruh hidupnya dengan tuntunan sistem kapitalis, bukan karena merasa diancam, melainkan karena tuntutan itu diyakini sebagai tuntutan efisiensi. Dengan demikian, kesadaran masyarakat secara keseluruhan seirama dengan kapitalisme. Hal inilah yang kemudian mengilhami Marcuse untuk mencetuskan One Dimensional Man.

Bagi Marcuse, masyarakat tetap memiliki kesadaran, dan karenanya mereka tetap sadar  pada apa semua keputusan yang dibuat. Namun, kesadaran yang dimiliki masyarakat merupakan kesadaran yang dituntut oleh kapilatisme, terutama melalui barang-barang produksi dan iklan. Mereka sadar ketika mengkonsumsi sebuah produk, namun mereka tidak sadar, mengapa haru mengkonsumsi produk tersebut.

Contoh yang paling sering dikemukakan oleh penulis dihadapan para mahasiswa adalah sebuah pertanyaan yang sedikit konyol, “sejak kapan warna hitam ketiak menjadi masalah bagi perempuan?”. Para mahasiswa bingung menjawab. Penulis kemudian membantu untuk menjawab, “sejak para perempuan menonton, membaca atau mendengarkan iklan tentang Deodorant”. Jawaban yang sedikit lucu dan tidak masuk akal. Namun penulis bisa memberikan alasan rasionalnya.

Penulis yakin, muara permasalahan manusia hanya perpangkal pada  dua hal, perut dan bawah perut. Urusan ketiak jauh dengan urusan perut. Ketika alat produksi menghasilkan sebuah produk, Deodorant, mesin kapitalis, termasuk iklan, secara massif membuat kriteria dan mengkampanyekan, bahwa wanita cantik itu harus tinggi, putih, langsing, termasuk harus memiliki ketiak yang bersih dan putih. Hal seperti itu diulang-ulang melalui iklan hingga menjadi sebuah kesadaran di dalam otak perempuan. “Agar tampil cantik ketiakku harus putih bersih”, kata seorang perempuan.

Saat kebutuhan pada  “ketiak putih nan bersih” menjadi salah satu kriteria cantik, alat produksi kemudian berlomba-lomba menghasilkan produk Deodorant dengan beragam merek. Dengan suka rela kaum perempuan mengkonsumsi Deodorant agar bisa tampil cantik, dan ternyata memang benar-benar cantik. Mengapa demikian, karena isi otak masyarakat sudah didesain sedemikian rupa oleh mesin kapitalis, temasuk mempercayai, perempuan cantik adalah perempuan yang ketiaknya putih nan bersih.

Pada akhirnya, pertanyaan yang sama muncul, sejak kapan perempuan cantik haru tinggi semampai?, sejak kapan perempuan cantik harus putih?, sejak kapan perempuan cantik harus bebas dari jerawat?. Jawabannya sama, sejak mesin kapitalis, iklan, membuat kriteria-kriteria cantik, untuk kemudian diciptakan produk-produk kecantikan.

– Ja’far Shodiq, M.Hi (Pengajar/Dosen UNISLA)



Share & Like Post ini :
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *