Ponpesma Unisla
Fiqih

Hukum Peringatan Maulid Nabi Menurut KH. Hasyim Asy’ari

MaulidNabi
Share & Like Post ini :


Mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad Saw hampir dilakukan di setiap negara yang berpenduduk Muslim, termasuk di Indonesia. Bahkan khusus di Indonesia, peringatan maulid Nabi Saw sudah menjadi tradisi dan dirayakan besar-besaran seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Setiap desa, kabupaten, bahkan hingga istana negara mengadakan peringatan maulid Nabi Saw.

Peringatan Maulid Nabi SAW dilakukan dengan berbagai ekspresi. Masyarakat Jawa, misalnya, merayakan Maulid dengan membaca Manakib Nabi Muhammad dalam Kitab Maulid Barzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba’, Saroful Anam, Burdah, dan lain-lain. Selesai membaca Manakib Nabi Muhammad, biasanya masyarakat menyantap makanan bersama-sama yang disediakan secara gotong royong oleh warga. Masyarakat Muslim tidak hanya bergembira merayakan kelahiran Nabi, tetapi juga bersyukur atas teladan, jalan hidup, dan tuntunan yang dibawa oleh Nabi.

Dalam kitab Al-Tanbihatul Wajibat, KH. Hasyim Asy’ari (W. 1366 H) mengatakan bahwa mengadakan peringatan maulid yang diisi dengan bacaan Al-Quran, kisah kemuliaan Nabi Saw, disuguhi hidangan makanan atau bahkan diiringi dengan tabuhan rebana, termasuk perbuatan yang tidak dilarang dalam Islam. Bahkan banyak para imam dan ulama menganjurkan agar senantiasa mengadakan peringatan maulid setiap bulan Rabiul Awal, bulan Nabi Saw dilahirkan.

KH. Hasyim Asy’ari dengan tegas mengatakan sebagai berikut;

اَلتَّنْبِيْهُ الْأَوَّلُ يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِ الْعُلَمَاءِ الْآتِيْ ذِكْرُهُ أَنَّ الْمَوْلِدَ الَّذِيْ يَسْتَحِبُّهُ الْأَئِمَّةُ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا وَقَعَ فِيْ حَمْلِهِ وَمَوْلِدِهِ مِنَ الْإِرْهَاصَاتِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ سِيَرِهِ الْمُبَارَكَاتِ ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُمْ طَعَامٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ وَإِنْ زَادُوْا عَلَى ذَلِكَ ضَرْبَ الدُّفُوْفِ مَعَ مُرَاعَاةِ الْأَدَبِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ

“Peringatan pertama. Dikutip dari perkataan para ulama yang akan disebutkan nanti, bahwa maulid yang dianjurkan oleh para imam adalah kegiatan berkumpulnya masyarakat, dibacanya ayat yang mudah dari Al-Quran, dibacakannya riwayat tentang permulaan kehidupan Nabi Saw, kejadian istimewa sejak dalam kandungan dan kelahirannya, dan sejarah yang penuh berkah setelah dilahirkan. Kemudian disajikan beberapa hidangan untuk mereka. Mereka menyantapnya dan selanjutnya mereka bubar. Jika mereka menambahkan atas perkara di atas dengan memukul rebana dengan menjaga adab, maka hal itu tidak apa-apa.”

Salah satu tujuan mengadakan peringatan maulid adalah berkumpul untuk membaca shalawat atas Nabi Saw, mengagungkan kedudukannya, dan menampakkan kebahagiaan dan suka cita di hari dan bulan kelahirannya. Tentu semua ini termasuk perbuatan baik dan terpuji. Bahkan menurut Imam Al-Suyuthi (w. 911 H), mengadakan peringatan maulid termasuk perbuatan akan mendapatkan pahala dari Allah karena mengagungkan Nabi Saw di dalamnya.



Share & Like Post ini :
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.