Ponpesma Unisla
Artikel

Kepemimpinan

Share & Like Post ini :


SuaraPonpesma.com – Tidak asing di telinga kita jika disebut sebuah kata “Kepemimpinan”, Ya… kepemimpinan atau bahasa kerennya disebut dengan Leadership. Apalagi bagi penggiat organisasi nampaknya sudah tidak asing lagi, sebab kata tersebut sering kali disajikan dalam materi pendidikan dan pelatihan (Diklat). Materi kepemimpinan biasanya menjadi menu wajib dalam kurikulum pelatihan oleh penggiat organisasi, bahkan dalam pendalaman materinya juga seringkali dijadikan sebagai bahan diskusi, dengan mengaitkan sejumlah isu kepemimpinan konteks terkini.

Nah, di sini pribadi mencoba untuk merangkai pemaknaan kepemimpinan, hal ini berdasar pada pengalaman pribadi yang pernah merasakan manis-pahitnya berorganisasi, sehingga mengantarkannya menjadi pengabdi oraganisasi itu sendiri. Sebenarnya berorganisasi bagi pribadi adalah sebuah keniscayaan. Selain berorganisasi manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, tentunya manusia tak bisa hidup sendiri, melainkan butuh yang namanya berinteraksi atau sosialisasi, aliyas butuh yang namanya bantuan orang lain. Entah itu terikat dalam hubungan formal atau tidak, yang pasti hal ini tidak bisa dipungkiri karena sudah menjadi kodrat manusia itu sendiri.

Kembali ke pembahasan di atas, berbicara mengenai kepemimpinan dapat dijelaskan bahwa Kepemimpinan merupakan sebuah kemampuan atau kesiapan yang dimiliki oleh seseorang yang dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh tersebut, yang pada intinya agar tercapai tujuan dan maksud yang hendak dicapai bersama.

Lantas, apakah setiap insan dimuka bumi ini adalah seorang pemimpin? Ya benar, sang Ilahiyah telah menciptakan manusia di muka bumi ini untuk menjadi seorang pemimpin atau disebut dengan khalifah fi al-Ardh dan setiap pemimpin itu akan dimintai pertanggungjawabnnya atas kepemimpinannya.

Hal ini berdasar pada sabda Nabi Muhammad saw, yang artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang Amir adalah pemimpin. Seorang suami juga pemimpin atas keluarganya. Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung-jawaban atas yang dipimpinnya.” (Shahih Bukhari : 4801).

Ingat, sebagai umat Islam, pemimpin itu hendaknya memiliki pegangan wajib sebagaimana kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Ada empat sifat sebagai bekal menjadi pemimpin, yaitu : 1.) Shidiq, yang artinya benar dalam keyakinan, ucapan dan tindakan. 2.) Amanah, artinya terpercaya dalam keyakinan, ucapan dan tindakan. 3.) Tabligh yaitu menyampaikan, baik berupa ideologi, ide pribadi maupun dari orang lain dan yang ke 4.) Fathonah yang dapat diartikan cerdas dan peka atau cepat tanggap terhadap problem.

Tidak terhenti di situ, kepemimpinan dapat dikembangkan lagi, seperti dalam falsafah jawa kepemimpinan yang dihubungkan dengan alam jagat raya yang kemudian digolongkan menjadi delapan sifat kepemimpinan.

Pertama adalah sifat Matahari, sifat ini dapat diartikan sebagai seorang pemimpin haruslah berbuat adil dan tidak tebang pilih terhadap yang dipimpinnya, menepati janji, tegas serta menjadi sinar semangat yang nyata.

Kedua, sifat Rembulan, sifat ini dapat disimbolkan sebagai seorang pemimpin memiliki sifat yang lemah lembut.

Ketiga, sifat Bintang, pemimpin harus memiliki sifat Bintang karena pemimpin sebagai pemberi / penuntun arah bagi yang dipimpinnya, artinya tidak mebiarkan yang dipimpinnya itu kebingungan. Sehingga sangtalah penting sifat Bintang ini, sebab pemimpin harus memiliki Visi dan tujuan yang jelas.

Keempat, sifat Bumi, yang dapat diartikan bahwa pemimpin harus memiliki pendirian yang kuat tidak mudah goyah dan konsisten terhadap tujuan dan cita-cita organisasi.

Kelima, sifat Angkasa, yaitu pemimpin harus berlapang dada, siap menerima kritik dan saran demi kebaikan dan kemajuan organisasi serta menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis dan bermusyawarah.

Keenam, sifat Banyu, yang dapat diartikan sebagai pemimpin harus banyak memberi harapan-harapan, agar rakyat (yang dipimpin) menjadi optimis dan bersemangat untuk maju bersama-sama.

Ketujuh, sifat Angin, sifat ini dapat masuk (menyusup) ke segala tempat. Sifat Angin dalam khasanah filsafat Jawa ini diartikan sebagai suatu bentuk ketelitian dan kehati-hatian. Dan dalam konteks kekinian pemimpin yang menguasi sifat Angin adalah ia yang selalu terukur bicaranya (tidak asal ngomong), setiap perkataannya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta. Kedelapan adalah Geni, dapat diartikan pemimpin harus bersikap tegas dan bijaksana.

Kedelapan, sifat Banyu, yang dapat diartikan sebagai pemimpin harus banyak memberi harapan-harapan, agar rakyat (yang dipimpin) menjadi optimis dan bersemangat untuk maju bersama-sama. Ketujuh adalah sifat Angin, sifat ini dapat masuk (menyusup) ke segala tempat. Sifat Angin dalam khasanah filsafat Jawa ini diartikan sebagai suatu bentuk ketelitian dan kehati-hatian. Dan dalam konteks kekinian pemimpin yang menguasi sifat Angin adalah ia yang selalu terukur bicaranya (tidak asal ngomong), setiap perkataannya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta. Kedelapan adalah Geni, dapat diartikan pemimpin harus bersikap tegas dan bijaksana.

Kepemimpinan dalam falsafah jawa di atas bila disandingkan dengan semboyan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantoro (Menteri Pengajaran era Presiden Soekarno) juga menemukan titik urgensinya dengan konsep kepemimpinan. Semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (di depan menjadi teladan, Visioner dan Progresif, jika di tengah memberi semangat dan memotivasi agar maju bersama, di belakang memberi dorongan). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia.

Selain dari pemaparan di atas, konsep kepemimpinan juga dapat dijelaskan dalam konteks ke Indonesiaan. Yaitu pemimpin yang memilki sifat Merah dan Putih. Merah dapat dimaknai dengan Pemimpin yang berani bersikap dan bertindak serta berani dalam mengambil keputusan. Sedang Sifat Putih dapat diartikan sifat yang jujur, amanah dan tidak ada sedikitpun celah/ternoda. Apabila terdapat pemimpin yang hanya mengandalkan sifat berani saja sedang dirinya tidak jujur aliyas hatinya tidak bersih maka dikhawatirkan pemimpin tersebut dapat membahayakan karena keberaniaannya yang ngawur. Sebaliknya, kalu hanya sifat Putih saja maka yang terjadi akan tidak bermanfaat, hanya untuk kebaikan dirinya sendiri, tidak berani mengambil keputusan untuk yang dipimpinnya, sehingga buat apa?. Oleh sebab itu maka keduanya harus seimbang, yaitu kepemimpinan Merah-Putih.

Demikian sedikit pemaknaan kepemimpinan beserta sifat-sifatnya, semoga bermanfaat.

*Dikutip dari beberapa sumber



Share & Like Post ini :
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *