PERKATAAN IBNU TAIMIYAH “الحقيقة في الاعيان و لا في الجنان”

Oleh : M. Khairul Anam, S.H,.SP,.MP,.MBA

(Musyrif Ponpesma UNISLA)

            Diskursus pemikiran tentang konsep ketuhanan (teologi) telah menjadi pembahasan yang sudah lumrah dalam kalangan ulama’-ulama’ kontemporer terutama dalam memahami akan hakikat atau substansional Tuhan. Tidak hanya tokoh-tokoh islam saja yang tertarik dengan pembahasan teologi melainkan juga tokoh-tokoh filsuf barat seperti Thales, Anexemines, Socrates, Plato dan Aristoteles.

            Seorang tokoh islam kontroversial yang selalu mendapat kecaman, hinaan dan cemoohan dari tokoh-tokoh islam yang lain terkait pemikirannya tentang konsep ketuhanan adalah Ibnu Taimiyah. Diantara pokok-pokok pemikiran Ibnu Taimiyah adalah kritikan terhadap perilaku dan praktek-praktek kaum Muslimin, baik yang berkaitan dengan Kalam, Filsafat, ataupun tarekat (tasawuf). Dalam mengkritik Kalam, Ibnu Taimiyah membalikkan posisi paham al Ghazali yang menganggap Kalam lebih utama dari pada Fiqh, kemudian ia juga mencela Kalam sebagai bentuk penyimpangan Islam[1]. Menurut Ibnu Taimiyah, sebagaimana dikutip oleh Fazlurahman, Kalam, terutama yang diikuti oleh para teolog (mutakallimun) setelah abad III benar-benar sudah tidak berdasarkan AlQur’an dan Sunnah. Lebih lanjut, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa para mutakallimun menganggap ilmunya sebagai ilmu yang benar, karena berkaitan dengan prinsip universal dari keyakinan, sedangkan Fiqh hanya membicarakan hukum dan permasalahan-permasalahan khusus yang besar kemungkinan terperangkap dalam persoalan ijtihad (kebebasan berpikir).

            Namun sebenarnya arah dan ideologi pemikiran Ibnu Taimiyah tidak ada yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, hanya saja konsep ketuhanan yang diyakini olehnya bertolak belakang dengan konsep yang diyakini oleh ulama-ulama’ lainnya. Diskursus ini sangatlah menarik untuk dikaji dan dibahas, terutama dalam mengklarifikasi ajaran-ajaran dari ibnu taimiyah yang katanya bertentangan/bersebrangan dengan ajaran yang sudah diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya.

Biografi Singkat Ibnu Taimiyah

Beriringan dengan kejatuhan kota Bagdad, pada tahun 656 H/1257M.
Tepat pada hari Senin, 12 Rabi’ al-Awwal tahun 661 H (1263 M), Ibnu Taimiyah dilahirkan di sebuah kota yang terletak antara sungai Dajlah dan Eufrat bernama Harran. Sebuah kota yang masuk dalam wilayah Hurasan (Persia). Oleh orangtuanya ia diberi nama Ahmad. Dan para ahli sejarah menuliskan nama lengkapnya dengan: Taqiy al-Dīn Abūl-‘Abbas Ahmad Ibnu ‘Abd al-Halīm Ibnu ‘Abd al-Salām Ibnu Abi al-Qasīm Ibnu Muhammad Ibnu Taimiyah al-Harrānī alDimasyqī[2]. Ayah Ibnu Taimiyah bernama Syihabuddīn Abū al-Mahasīn Abdu al-Halīm bin Taimiyah. Dia belajar dari ayahnya (Taimiyah) mazhab faham Hambali hingga ia benar-benar memahaminya[3].

Ibnu Taimiyah mendapat pendidikan di samping dari ayahnya, juga dari
pamannya Fakhruddīn, seorang pemikir dan penulis termasyhur. Ia mendapat pendidikan pula dari para cendikiawan terkemuka di kota Damaskus. Pengetahuannya tidak hanya terbatas pada studi-studi al-Qur’an, hadis dan fiqh saja, tetapi juga mempelajari dan ahli di bidang matematika, sejarah, kesustraan dan secara khusus mendalami fiqh Hambali karena ayahnya sendiri adalah tokoh dari mazhab ini.

Ibnu Taimiyah telah terkenal pada usia yang masih relatif muda, 20 tahun. Ia pernah diundang ke Mesir memberikan fatwa, di sini Ibnu Taimiyah
menunjukkan keahlian yang sungguh mengagumkan, terutama fatwanya yang berkenaan dengan pembasmian khurafat dan bid’ah. Ketika ia berusia 21 tahun ayahnya meninggal dan ia menggantikan ayahnya sebagai guru hadis. Profesi guru hadis ini membuat ia sangat termasyhur melebihi ulama-ulama sezamannya.

Ibnu Taimiyah meninggalkan sekitar 500 jilid dalam berbagai bidang ilmu. Sebagian besarnya dapat dibaca hingga sekarang, namun sebagian yang lain hanya tinggal nama atau masih berupa manuskrip yang belum ditahqiq. Ibnu al-Wardy (w. 749 H) bahkan menyatakan bahwa dalam sehari semalam, Ibnu Taimiyah dapat menulis sampai 4 buku[4].

Pemikiran Ibnu Taimiyah dalam Ilmu Tasawuf

Sering kita mendengar bahwa Ibnu Taimiyah itu anti tasawuf dan penentang sufi, padahal kalau diperhatikan dari sikap dan pandangannya dia adalah seorang sufi dan pengikut ajaran tasawuf sunni (yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah), meskipun ia tidak mengistilahkan ajaran tasawuf dengan istilah tersebut. Istilah yang sering dipakai oleh Ibnu Taimiyah adalah istilah suluk, akan tetapi substansinya adalah apa yang ada pada ajaran tasawuf.

Suluk menurut Ibnu Taimiyah merupakan kewajiban setiap mukmin, seperti yang diungkapkannya dalam kitab Fatawanya. “Suluk adalah jalan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya berupa itikad, Ibadah dan Akhlak. Semua ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunah, dan suluk ini kedudukannya seperti makanan yang menjadi keharusan seorang mukmin”. Diantara kata-kata Ibnu Taimiyah mengenai tasawuf adalah “amal-amal hati yang diberi nama maqamat dan ahwal seperti: cinta kepada Allah dan Rasulnya, tawakal, Ikhlas, sabar, syukur, khauf dan semacamnya adalah kewajiban setiap makhuk, baik kaum khas atapun orang-orang awam”[5].

Kesufian Ibnu Taimiyah tidak hanya terbukti dari keilmuannya saja akan tetapi perbuatan dan sikapnya telah membuktikan akan semua ini. Adz-Dzahabi pernah bercerita bahwa dia tidak pernah menemukan orang yang banyak berdoa dan bertawajuh kepada Allah SWT melebihi Ibnu Taimiyah.[6]

الحقيقة في الاعيان و لا في الجنان

Dalam buku yang dikarang oleh Dr. H. Dahlan Tamrin yang berjudul “Tasawuf Irfani (Tutup Nasut Buka Lahut)” dikatakan bahwa Allah SWT memberikan hamba-Nya dua penglihatan, penglihatan melalui mata kepala (al-basor) dan melalui mata hati (al-bashiroh). Mata kepala melihat yang kasat mata, nampak jelas hanya berdasar pada perkiraan, berbeda dengan hati yang melihat makna yang halus berdasarkan cahaya ke-Allah-an.[7]

Penglihatan manusia melalui mata hati (al-bashiroh) dengan pertimbangan temuan cahaya makna yang halus, dibagi dalam lima bagian.

  1. Rusaknya pandangan dan bahkan buta serta mengingkari cahaya kebenaran dari aslinya. Ini bashiroh orang kafir sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Hajj : 46

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

 “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”

  • Pandangan benar akan tetapi terhalang lemahnya pandangan karena sakit, yakni mengakui melihat cahaya, akan tetapi tidak kuat menyaksikannya dan tidak menyaksikan dekat dan jauhnya. Pandangan ini ada pada kebanyakan orang islam.
  • Pandangannya benar dan kuat, sehingga terbuka matanya, hanya karena kuatnya sinar dan sangat dekat sehingga tidak kuat membuka matanya. Ini bagi kebanyakan orang yang menghadap (al-mutawajjihun). Ini maqom shi’a’u al-bashiroh yang dalam melihat sesuatu berada pada tahap cahaya ‘ilmu yakin dan ini bagi ahli dalil dan burhan.
  • Pandangannya kuat sehingga terbuka mata hatinya dan menemukan cahaya yang meliputinya hingga hilang dengan menyaksikan cahaya. Ini khusus bagi orang-orang yang menghadap (al-mutawajjihun). Maqom ini disebut maqom ain al-bashiroh yang dalam melihat sesuatu berada pada tahap ain al-Yakin dan ini bagi ahli mukasyafah dan mubayyan.
  • Pandangan mata hatinya benar dan cahayanya sangat kuat sehingga bertemu cahayanya dengan cahaya aslinya, dan tidak melihat melainkan cahaya aslinya dan mengingkari tambahan dari cahaya aslinya: “Allah ada dan tidak ada sesuatu yang lain dari padanya”. Kondisi inilah yang disebut dengan Haqq-Al-Bashiroh (mata hati yang hakiki), dimana pemiliknya ketika melihat keberadaan lingkungan (Al-akwan) tercetaklah pada cermin bashiroh-nya. Inilah yang disebut Nur Al-Iman. Disinilah seseorang dalam melihat sampai tahap Haqq a-Yakin dan ini bagi ahli shuhud dan i’yan.[8]

Dalam kaitannya dengan pandangan mata kepala dan mata hati Tamrin (2010 : 55) membagi manusia ke dalam empat kelompok:

  1. ينظر بالبصر و بالبصيرة معا (bisa melihat sesuatu dengan mata kepala dan mata hati)
  2. ينظر بالبصر فقط لا بالبصيرة (bisa melihat sesuatu dengan mata kepala saja tanpa mata hati)
  3. ينظر بالبصيرة فقط و لا بالبصر (bisa melihat sesuatu dengan mata hati tanpa mata kepala)
  4. و لا ينظر بالبصر و لا بالبصيرة معا (tidak bisa melihat sesuatu dengan mata kepala dan mata hati).

Sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas, bahwa Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah memang sering sekali mendapat kecaman dari para ulama’ lain dari segi pemikirannya. Namun, beliau walaupun seringkali bertentangan atau nyeleneh beliau adalah seorang sufi yang menganut sunni salafi. Pertentangan ini sebetulnya bukan hanya di dasarkan pada persoalan akidah saja, melainkan juga persoalan pendidikan, ekonomi dan politik pada waktu itu yang mengatasnamakan salafi bahkan hal inilah yang justru di tentang oleh Syeikh Ibnu Taimiyah, hal itu dikarenakan ajaran dan distorsi pemikiran yang diajarkan bertolak belakang dengan islam sunni salafi.

Ibnu Taimiyah memang selalu kontradiktif dengan ajaran para ulama’ sezamannya, akan tetapi secara ijtihadi tetap disahkan. Karena tidak ada yang bisa menyalahkan hasil ijtihad seseorang yang sudah mencapai maqom musyahadah dan muroqobah.[9]

Jika ditinjau dari sudut pandang penulis dalam kaitannya dengan perkataan/ucapan Ibnu Taimiyah yang berbunyi الحقيقة في الاعيان و لا في الجنان, ini sangat erat kaitannya dengan pengalaman kasyaf[10] dari Syeikh Ibnu Taimiyah sendiri. Syeikh Ibnu Taimiyah memang bukan mengatasnamakan seorang sufi melainkan sebagai suluk. Ibnu taimiyah sendiri mengistilahkan amal-amal hati sebagai maqomat dan Ahwal.

Al-Ahwal jama’ dari kata al-Hal, secara bahasa diartikan dengan kondisi batin bagi salik. Al-Hal dalam pandangan sufi adalah kondisi yang lewat di hati salik tanpa sengaja, tanpa dipaksa dan tanpa usaha, baik senang ataupun susah. Al-Hal pemberian dari Al-Haqq, sedangkan al-Maqomat sebagai hasil usaha manusia. Al-Hal datang karena wujudnya jiwa manusia, sedangkan al-Maqam diperoleh dengan usaha keras, pemilik al-Maqom menetap di maqomnya sedangkan pemilik al-Hal bisa bergeser. Datangnya kondisi psikis itu tidak menentu, ada kalanya datang dan perginya cepat maka disebut dengan al-Lawa’ih. Kalau datang dan perginya lama maka disebut dengan al-Bawaadih.[11]

Sedangkan menurut al-Qushairi dalam Tamrin (2010: 81) mengatakan bahwa al-Hal selalu bergerak setapak demi setapak sampai ke tingkat puncak rohani. Karena keadaannya terus menerus bergerak dan beralih berganti maka karena itulah disebut dengan al-Hal. Dan al-Maqom adalah tingkatan pelatihan dalam membina sikap dan hasilnya dapat dibaca pada perilaku seseorang secara lahiriyah, sedangkan al-Hal bersifat abstrak dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata dan tidak bisa dijelaskan dengan bahasa tulisan atau lisan.

Seseorang seperti Ibnu Taimiyah sudah mencapai tingkatan tersebut, maka dari itu banyak sekali orang/para ulama yang menentang ajaran beliau, karena arah pemikiran beliau yang nyeleneh. Hasil ijtihad dan i’tiqad dari para ulama’ berbeda-beda tergantung tingkatan kasyaf mereka. Begitu pula dengan syeikh Ibnu Taimiyah yang telah masuk dan tenggelam dalam tingkatan Haqqul Yaqin sehingga Hakikat yang dimaksud sudah tidak abstrak/samar lagi melainkan tampak secara kasat mata, inilah seperti yang saya sebutkan di atas sebagai ainul Bashiroh.

Menurut Ahmad Khalil[12] dalam bukunya narasi cinta dan keindahan : menggali kearifan Nabi dan interaksi insani, mengatakan bahwa mengenal Allah berarti memiliki kesadaran akan eksistensi-Nya, yaitu mengenal Allah sebagai Wujud Hakiki Yang Mutlak, sementara wujud lainnya adalah wujud bayangan yang nisbi. Wujud bayangan ini, sebenarnya hanya image, buah pikiran atau angan-angan manusia, sementara yang benar-benar wujud hanyalah Allah.

من ابصر الخلق كالسراب * فقد ترقى عن الحجاب

الى وجود تراه رتقا * بلا ابتعاد و لا اقتراب

فلا خطاب به اليه * ولا مشير الى الخطاب

(ايقاظ الهمم : 88)

“Barang siapa yang memandang segala ciptaan (hanya) sebagai fatamorgana, dia telah beranjak ke ruang yang tanpa perintang. Beranjak ke suatu wujud yang tunggal tanpa jarak. (pada posisi itu) Tidak ada kata Dia atau Kau (yang ada Aku).”

Ada sepotong sya’ir yang dikutip dari bukunya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Murid dari Ibnu Taimiyah tentang kerinduan kepada Robb-Nya.

Bisikan cinta bukan sekedar bisikan

Tiada yang tahu apa yang telah dikabarkan

Urusan cinta tiada tuntas dengan penalaran

Tidak pula dengan analogi dan pikiran

Urusan cinta adalah urusan sentuhan hati

Urusan demi urusan datang silih berganti

Namun hanya ada satu cinta haqiqi

Yaitu kepada Allah Robbul ‘Izzati

Wallahu A’lam bis Showab.

DAFTAR REFERENSI

Ahmad Khalil. 2009. Narasi Cinta Dan Keindahan : Menggali Kearifan Nabi Dan Interaksi  Insani. Malang : UIN Maliki Press. h. 55

Amin Syukur. 2001. Tasawuf dan Krisis. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. h. 12

Duriana. 2013. Pandangan Tasawuf Ibnu Taimiyah Dalam Kitab At-Tuhfah Al-Iroqiyyah fi A’maal Al-Qalbiyah. Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon

Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Jilid 13,(Cet. I; Beirut Maktabah al-Ma’arif, 1966), h. 308. Lihat juga Al-Dzahaby, Tadzkirah al-Huffazh, Jilid IV ( Haidar Abad: t.t.), h. 288.

Mustapa. 2011. Madzhab-Madzhab Ilmu Kalam. Ciebon. Nurjati IAIN Publisher. Hal.54

Said Abdul ‘Azim, Ibn Taymiyah, al-Tajdīd al-Salafī wa Da’wati al-Iṣlāhiyyah. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Faisal Saleh dan Khoirul Amru Harahap dengan judul: Ibn Taymiyah, Pembaharuan Salafi dan Dakwah Reformasi, (Cet. I; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), h.15.

Tamrin, Dahlan. 2010. Tasawuf Irfani : Tutup Nasut Buka Lahut. Malang : UIN Maliki Press

Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Islam (Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), h. 52-53.


[1] Mustapa. 2011. Madzhab-Madzhab Ilmu Kalam. Ciebon. Nurjati IAIN Publisher. Hal.54

[2] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Jilid 13,(Cet. I; Beirut Maktabah al-Ma’arif, 1966), h. 308. Lihat juga Al-Dzahaby, Tadzkirah al-Huffazh, Jilid IV ( Haidar Abad: t.t.), h. 288.

[3] Said Abdul ‘Azim, Ibn Taymiyah, al-Tajdīd al-Salafī wa Da’wati al-Iṣlāhiyyah. Diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia oleh Faisal Saleh dan Khoirul Amru Harahap dengan judul: Ibn Taymiyah, Pembaharuan Salafi dan Dakwah Reformasi, (Cet. I; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), h.15.

[4] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Islam (Cet. II;
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), h. 52-53.

[5]  Amin Syukur. 2001. Tasawuf dan Krisis. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. h. 12

[6]  Ibid.,

[7]  Tamrin, Dahlan. 2010. Tasawuf Irfani : Tutup Nasut Buka Lahut. Malang : UIN Maliki Press h. 53

[8] Ibid., Hal, 55.

[9]   Musyahadah adalah maqom awal dalam maqam al-haqiqah yang harus ditempuh oleh setiap  salik usai menyelesaikan maqom at-thuma’ninah yakni maqom dimana seseorang mampu menstabilkan rohaninya walaupun banyak godaan yang mengelilinginya. Sedangkan menurut ulama’ sufi musyahadah adalah penglihatan spiritual Ilahi baik ketika ramai ataupun sendiri, tanpa bertanya bagaimana dan dengan cara apa.

      Sedangkan Muroqobah adalah kesadaran pengawasan oleh Dzat yang menjaga dirinya, selalu menaruh perhatian kepada-Nya. (Tamrin, 2010 : 60)

[10]  Al-Kasyaf artinya tersingkapnya tabir yang menutupi Allah SWT. Maka dengan Al-Kasyaf apa yang ada pada Dzat Allah, kekuasaan, keagungan, dan kerahmatan dapat diketahui bi’ainil Bashiroh

[11] Tamrin, Dahlan. 2010. Tasawuf Irfani : Tutup Nasut Buka Lahut. Malang : UIN Maliki Press h. 80

[12] Ahmad Khalil. 2009. Narasi Cinta Dan Keindahan : Menggali Kearifan Nabi Dan Interaksi  Insani. Malang : UIN Maliki Press. h. 55

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *