Meneropong Sejarah dan Tarikh

Oleh : Ust. Sugianto

SuaraPonpesma. – Sudah jamak kita ketahui bahwa terkadang kita sangat alergi melihat satu peristiwa dari kacamata sejarah terhadap satu sahabat, tapi di satu sisi kita hanya meneropong sahabat yang lain dari sisi sejarah saja yang kedua kacamata itu pasti melahirkan alur cerita dan kesimpulan yang sangat kontras.

            Padahal seharusnya kita bisa memakai kedua kacamata analisis tersebut secara proporsional agar memperoleh gambaran yang obyektif (meskipun pasti bernuansa subyektif) terhadap sejarah yang kita pelajari dan kita ajarkan terhadap anak didik yang memang harus menerima informasi secara obyektif.

Sebagai contoh adalah cara pandang kita terhadap sahabat Muawiyah bin Abu Sufyan (602680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah dan juru tulis Nabi Muhammad SAW.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Muawiyah masuk Islam pada 7 H. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan ulung. Muawiyah adalah sahabat yang kontroversial dan tindakannya sering disalahartikan.

Akan tetapi pertanyaan yang selalu muncul bagi kami pribadi adalah dimanakah Posisi sahabat Muawiyah di hadapan rosulullah SAW ?. karena gambaran umum selama ini adalah bahwa beliau adalah sosok yang sangat kejam dan hanya mencari jabatan dalam memeluk agama islam. Ketika ada penyebutan Muawiyah konotasinya selalu negatif dari segi kepribadian dan keislamanya

Terkadang kita hanya melihat sosok beliau dari gambaran sejarah perpolitikan dalam dinamika perebutan kekuasaan saja. Dan disadari atau tidak gambaran negative pasti memenuhi ruang-ruang diskusi atas segala tindakan dan kebijakan yang telah dilakukan.

Padahal disatu sisi ketika kita membuka selembar tarikh maka kita juga akan menemukan hal-hal yang selama ini kurang seksi untuk dibahas (karena lebih seksi dan menarik membahas yang lain). Beliau adalah sekretaris Rasulullah, sahabat yang memiliki tempat di hati para sahabat dan lain sebagainya.

Apakah kebencian terhadap orang lain bisa di hilangkan oleh prestasi orang itu tergantung pada hati dan cara pandang kita masing-masing… termasuk kelompok manakah kita?????

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *