Tradisi Halal bi Halal dan Asal Mulanya

SuaraPonpesma, Selepas menjalani puasa sebulan penuh lamanya, kini umat Islam telah merayakan hari raya Idul Fitri 1439 H (Jumat,15/06/2018) lalu. Dihari kemengan ini umat Islam mewarnainya dengan memperbanyak dzikir dengan bertakbir, tahmid dan tahlil sepanjang hari. Selanjutnya setelah melaksanakan shalat Idul Fitri, para jamaah saling bertegur sapa, bersalaman dan mendoakan. Wajah bergembira nan berseri-seri nampak disetiap wajah umat Islam, suasana seperti ini umum kita jumpai pada perayaan Idul Fitri. Namun, ada yang berbeda momen perayaan Idul Fitri di Indonesia, yaitu tradisi halal bi halal.

Sebenarnya bagaimana asal mula tradisi halal bi halal itu ada?

Disini penulis akan meringkas asal mula tradisi halal bihalal yang sebagian besar tulisannya bersumber dari NU Online.

Salah satu media favorit penulis ini pernah mempublish asal mula tradisi halal bi halal.

Seperti yang dituliskan NU Online, bahwa Penggagas istilah “halal bi halal” ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Cerita singkatnya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”.

“Itu gampang”, kata Kiai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal'”, jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Lebih jauh NU Online menjelaskan, kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada.

Dengan demikian tradisi yang sudah mengakar sejak zaman Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I maupun pengistilahan nama halal bi halal yang diusulkan KH Abdul Wahab Chasbullah ini patut kita rawat dan dilestarikan.

Sedikit ulasan yang dilansir dari media NU Online ini semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan bagi kita, Amiin.

Sumber : www.nu.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *