ZIARAH MAQBARAH, JADI TRADISI NU DAN MAHASANTRI PESANTREN INI

SuaraPonpesma, Berbicara mengenai tradisi orang-orang NU memang mengasyikkan. Pasalnya, tingkah lakunya kadang-kadang dipandang aneh sebagian orang. Mungkin saja karena mereka (orang-orang yang menganggap aneh itu) belum banyak mengenal ritual itu dalam lingkungannya, atau memang sudah mengenal, tetapi lantaran begitu fanatiknya orang-orang NU melakukannya, mereka menajdi takjub. Misalnya, tentang ziarah maqbarah (ziarah kubur). Orang Indonesia pada umumnya sudah biasa ziarah ke makam ayah atau ibunya. Mungkin karena orang-orang NU dalam hal ini terlalu bersemangat, saking semangatnya mereka urunan untuk mengadakan rombongan, berduyun-duyun pergi ziarah ke makam Wali Songo. Setiap ada rombongan orang masuk makam, bisa dipastikan itu adalah orang-orang NU.

 

Masih dalam tradisi yang sama, kali ini dari kalangan mahasantri Pondok Pesantren Mahasiswa Universitas Islam Lamongan (Ponpesma Unisla), kalau tidak Kamis sore ya Jum’at pagi, mereka membiasakan diri berziarah ke makam rektor pertama Unisla, Prof. KH. Achmad Mudlor, SH. Kalau ia berketepatan di rumah, makam keluarganya yang diziarahi. Sebelum kirim doa, mahasantri terlebih dahulu membersihkan lingkungan dari sampah dedaunan. Atau, mengganti bunga-bunga yang sudah kering di atas makam. Setelah itu, baru membaca Al-Qur’an, kalimah thayibah, atau membaca surat Yasin dan tahlil. Tidak ada batasan yang mengikat, semua dilakukan dengan ikhlas, lalu diakhiri dengan membaca doa, doa kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Mendoakan untuk diri sendiri, para kiai, ustadz/ah, dosen, bapak, ibu dan semua umat Islam

 

Pada prinsipnya, ziarah ke makam itu dapat dilaksanakan kapan saja; mau pagi, siang, sore, malam, boleh-boleh saja; hari senin, Selasa, atau yang lainnya; seminggu 1 kali, 2 kali atau 3 kali, silakan. Sebab intinya (hikmah) dari ziarah ialah untuk menebalkan keimanan dengan mengingat kematian. Tentu ini lebih baik ketimbang sepekan berpikir tentang duniawi, kekayaan, uang dan lain sebagainya, yang tidak ada batasnya. Malah dikhawatirkan akan menjerumuskan manusia ke lembah kesengsaraan. Tidakkah hidup ini sekedar kesenangan yang palsu, bak fatarmogana yang bisa menipu? Kalau kita tidak pandai-pandai melapisinya dengan iman dan ilmu, apa jadinya?

 

*Diolah dari berbagai Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *