REFLEKSI KEPRIBADIAN MENYAMBUT TAHUN BARU ISLAM 1439 H

REFLEKSI KEPRIBADIAN MENYAMBUT
TAHUN BARU ISLAM 1439 H by al-faqir Achmad Fageh

Sebagai hamba Allah yang bijak marilah kita melakukan refleksi dan instropeksi diri dengan cara mengakui sepenuh hati akan arti kekurangan penghambaan kita padaNya. Kesadaran ini akan terus berkembang menjadi keyakinan kita bahwa Allah SWT merupakan Dzat yang Maha Suci dan penuh belas kasih kepada kita sehingga kita tidak akan merendahkan segala sesuatu yang telah diberikan Allah kepada kita, Apapun bentuknya.
Pada kesempatan kali ini bersamaan dengan peringatan tahun baru 1439 H. Sebuah peringatan yang diawali oleh perjuangan hijrah Rasulullah SAW bersama para sahabatnya yang taat dari Mekkah ke Madinah. Marilah kita selalu menambah rasa haus kita akan arti ketulusan, keikhlasan dan kekhusu’an dengan upaya peningkatan amal baik secara pribadi dan sosial.
Allah SWT berfirman dalam surat al-Hasyr : 18
يا ايا الذين امنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ماقدمت لغد وا تقوا الله ان الله خبير بما تعملون .
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah seseorang melihat apa yang telah diperbuatnya di masa lampau untuk menyongsong kehidupan di masa depan. Bertakwalah kalian pada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Pada ayat diatas, Allah mengawali dengan perintah yang ditandai oleh huruf Lam Amar kepada setiap jiwa yang diungkapkan dengan lafadl Nafs yang dalam tata bahasa Arab berbentuk umum/nakiroh. Hal ini dikandung maksud sebuah pemberitaan Allah kepada kita betapa seorang jiwa manusia yang sadar akan kepentingan kehidupan di masa depan (akhirat) sangat sedikit. Secara tersirat pula kita fahami betapa saat-saat ini mereka yang telah bertitel manusia sudah banyak yang tidak memiliki nilai kemanusiaan/Humanity. Mestinya kita banyak bersyukur pada Allah sebab Allah telah menjadikan kita ini makhluk yang sempurna. Ada bertitel sarjana, memiliki jabatan, diberi rezeki berlimpah ruah, diberi anak dan keluarga dan lain-lainnya. Kesemuanya hampir kita lupakan sebagai wujud pemberian Allah yang diamanati kepada kita untuk kita jaga dengan cara mendistribusikan segala pemberianNya untuk kepentingan umat manusia. Sebagaimana sabda Nabi SAW : خير الناس أنفعهم للناس Artinya Sebaik-baik manusia ialah mereka yang banyak memberikan kemanfaatan pada orang lain. lebih jelas Rasulullah menguraikan dalam hadis lain : المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده المهاجر من هاحر ما نهى الله رواه المسلم “seorang muslim adalah mereka yang bisa memberi rasa jaminan keamanan dan kenyamanan kepada orang orang lain dari ucapan dan perbuatannya, seorang muhajir hakiki adalah mereka yang berjuang meninggalkan larangan Allah”
Oleh karena itu marilah kita menyadarkan diri kita untuk kembali menjadi manusia (dalam arti mengembalikan nilai-nilai kemanusian kita yang penuh dengan kebaikan dan kedamaian) dari setelah kita selama ini sudah bukan lagi menunjukkan watak dan sifat manusia yang sejati. Allah telah memberi cara dan metode yang bagus yaitu taqwa. Tidak salah kalau Allah sampai memerintahkan dua kali perintah pada ayat diatas pertama sebagai perintah dasar untuk selalu bertakwa dan kedua sebagai perintah untuk melanggengkan nilai taqwa Hal ini dikarenakan kita sering kali lalai dan meninggalkan kemesraan bersamaNya.
Rasulullah SAW bersabda :
الكيس من دان نفسه و عمل لما بعد الموت والاحمق من اتبع نفسه هواها وتمنى على الله الامانى
Artinya : Orang yang cerdik ialah mereka yang selalu menjaga nafsunya dan beramal untuk kepentingan setelah mati, dan orang yang bodoh ialah mereka yang selalu menuruti hawa nafsunya dan berharap sesuatu yang tidak akan bisa terjadi.

Lebih jauh Allah mengingatkan kita pada ayat selanjutnya dengan FirmanNya pada surat dalam al-Hasyr : 19
ولا تكو نوا كالذين نسوا الله فانساهم انفسهم اولئك هم الفاسقون
Artinya : Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah maka Allah akan melalaikan mereka mereka itu orang-orang yang fasik.
Konteks lalai dalam ayat diatas bukan berarti keadaan lupa akan sesuatu hafalan akan tetapi sesuatu keadaan sikap yang tidak mau tunduk dan patuh kepada titah Allah SWT. Sehingga Allah akan meninggalkan mereka dengan tidak memberikan rahmat besok di akherat itulah yang dikatakan rugi dunia dan akhirat خسران الدنيا والاخرة, Orang yang berbuat keburukan akan menimpa kepada dirinya sendiri, وان اسأتم فلها, Dan barang siapa yang kufur kepada Allah maka kekufurannya akan menimpa pada dirinya. ومن كفر فعليه كفره.
Marilah kita isi tahun baru Islam 1439 H ini dengan upaya peningkatan amal sholeh baik secara pribadi yaitu pemenuhan kewajiban kita secara sempurna dan secara ibadan sosial dengan mengentaskan kesusahan dan kesulitan orang lain untuk kita bantu sesuai kemampuan kita. Milikilah prinsip hidup seperti ini “Kalau tidak bisa berbuat baik kepada orang lain maka jangan sekali-kali pernah menyakitinya”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *